Kota Bersahabat

Posted in Ujar - ujar on February 28, 2012 by Zhang He

Saya baru saja kembali dari perjalanan ke Yogyakarta dan Magelang. Sudah lama saya tidak ke daerah Jawa Tengah Jawa Timur sana, sehingga tidak menyadari betapa rindunya saya pada kota-kota ini. Yang mengesankan adalah penduduknya. Selama tiga hari di sana, tidak ada satupun yang tidak ramah saat melayani saya, mulai dari tukang parkir, penjaga toko, pelayan rumah makan, bahkan hingga tukang sapu. Entahlah, mungkin karena bahasa mereka yang enak didengar, atau mungkin memang pembawaan mereka yang ramah. Sangat jauh berbeda dengan penduduk kota-kota lain yang pernah saya kunjungi, misalnya Jakarta, Bandung, Bogor, Lampung, Surabaya, Medan, ataupun Guangzhou, dan masih banyak kota-kota lainnya.

Ada kejadian menarik yang membuat saya bisa berpikir seperti ini. Sewaktu hendak membeli oleh-oleh di sebuah toko besar, ada seorang karyawan yang mungkin baru, sehingga masih latihan di mesin kasir. Saya menaruh banyak bungkusan di meja kasir, menunggu dihitung. Inginnya cepat-cepat selesai dan meluncur mengejar pesawat ke bandara, namun si karyawan baru ini lambat sekali. Selain itu, dia membuat kesalahan, hingga harus mengulang dari awal. Anehnya, saya seperti terbius, dan sama sekali tidak kesal. Karyawan baru itu, beserta dua rekannya dengan nada halus berbicara satu sama lain saling membantu, menghitung satu-satu. Saat dia melakukan kesalahan, rekannya tertawa dan menolong dia. Saya benar-benar terperangah melihat ini. Baru kali ini saya tidak kesal melihat ulah karyawan yang salah-salah.

Dan faktor lain yang tidak kalah penting, sudah jelas adalah makanannya. Biasanya saya tidak berselera makan pagi. Tetapi di sana, saya bahkan makan nasi dengan lahap. Menu-menunya beragam dan rasanya sangat kental Jawa. Ditambah suasananya yang menyenangkan dan penduduknya yang ramah, wah selera makan saya jadi berlipat.
Semoga saya bisa sering-sering ke sana untuk berlibur~

Ketika Malam Menyambut

Posted in Kumpulan Cerpen on February 24, 2012 by Zhang He

Keyword: palung, pasar malam, salju, jelantah, polkadot

***

 

Ia gemetar, mencengkeram sebilah pisau dapur dengan kedua tangan. Bibirnya komat-kamit tanpa suara, matanya membelalak ngeri dalam kegelapan sepekat palung terdalam. Butiran air mata bercampur keringat bercucuran tanpa henti.

Krrk…. Krrrrrkk….

Suara garukan di pintu semakin lama semakin kencang. Geraman serak basah menggaung dari balik kayu tipis itu. Mulanya satu, lalu menjadi tiga… empat.

“Oh Tuhan…. Tuhan….”

Gadis itu mundur teratur, menekap mulutnya menahan tangis. Pisau di tangan kirinya hampir selip karena keringat dan gemetar tak terkontrol. Suara-suara itu tidak berhenti, bahkan kenop pintu mulai mendecit, bergerak-gerak.

DRAK!

Pintu dihantam keras, berkeriut saking rapuhnya. Gadis itu menangis menjadi-jadi, gelagapan meraba-raba mencari letak meja tulis.

DRAKK!

Meja itu didorongnya cepat-cepat ke depan pintu, tidak peduli lagi suara gesekannya nyaring terdengar. Kemudian dengan sigap kursi kayu kecil dinaikkan terbalik ke atas meja, tepat menyangga kenop pintu.

DRAK! KRRK DRAKKK!

Ia menjerit saat kayu pintu mulai patah dan ditarik-tarik ganas. Sebuah tangan abu-abu pucat kehijauan berlumur darah mencuat dari lubang di pintu menggapai-gapai liar. Dengan panik, gadis itu menggigit gagang pisaunya, membuka pintu lemari pakaian di ujung kamar di sebelah pintu, kemudian mulai memanjat. Meringkuk di atas lemari, ia menyambar beberapa helai pakaian dan menutup kembali pintu lemari.

KRAKKK! BRAAK!

Sambil sesenggukan, sang gadis menyampirkan pakaian-pakaian itu di atas tubuhnya lalu meringkuk diam. Kedua tangannya menekap mulut mencegah tangisnya terdengar. Dari balik tumpukan pakaian, ia mengintip, gemetar kencang. Dilihatnya di sela-sela jendela yang dipalang rapat oleh kayu, semburat cahaya redup mengintip. Berharap matahari segera terbit, gadis itu mencengkeram erat pisaunya, menunggu.

Lubang di pintu kamar semakin lama semakin besar. Serat-serat kayu yang rapuh ditarik-tarik ganas. Kursi yang menghalangi didorong jatuh begitu saja dengan mudah. Lalu makhluk itu merangkak masuk.

Bau busuk menguar. Makhluk berbadan manusia, berkulit abu-abu kotor, dan berlumur darah itu melangkah sempoyongan, menggeram-geram. Di belakangnya dua tiga lagi memanjat masuk. Diam di sana, makhluk-makhluk seperti mayat hidup itu mengedarkan pandangan, lantas mengobrak-abrik perabotan mencari mangsanya. Yang satu berjalan pelan-pelan hingga ke ujung kamar, menggerung tidak puas, menggebrak papan kayu yang dipaku di jendela. Si gadis yang tengah bersembunyi sesenggukan dan gemetar hebat, menekap kuat mulutnya. Air matanya tak kunjung berhenti membasahi wajah mungilnya.

Sementara itu cahaya terang mulai merembes masuk. Matahari rupanya mulai pelan-pelan terbit dari balik bukit. Salah satu mayat hidup yang berada dekat jendela meraung dan terhuyung mundur, menabrak lemari. Kaget, gadis itu memekik tertahan. Sontak mayat-mayat itu berpaling ke arah tumpukan pakaian di atas lemari. Mengira mereka tidak bisa berpikir, si gadis diam bertahan, meratap dalam hati matahari segera terbit. Namun tidak bisa dikelabui, mereka serentak menerjang lemari, mendobrak, menggaruk-garuk. Gadis itu menjerit histeris, menyabet-nyabetkan pisaunya. Tangan-tangan busuk monster itu menggapai ke atas tapi tidak terjangkau. Tiba-tiba mereka mulai menggoyang-goyang lemari. Pelan-pelan, lantas semakin liar. Saat lemari mulai oleng, si gadis memekik tersedu.

Beruntung akalnya belum hilang, ia melompat ke samping dan mendarat di meja dengan kepala membentur daun pintu. Mengabaikan denyut di tengkoraknya, terburu-buru ia merangkak keluar melalui lubang sampai perutnya tergores serpihan tajam pada bilah kayu.

Tapi pergelangan kakinya tertangkap. Kuku-kuku tajam makhluk itu menusuk kulit, menariknya tanpa ampun, dan membantingnya di atas lantai. Ia meronta liar, pisaunya ditusukkan ke lengan monster yang menangkapnya tanpa ada hasil. Perlahan-lahan yang lain mendekat, menarik rambutnya, kakinya.

Lalu gigi-gigi itu menghunjam.

***

“Tolong jaga jarak, pak!”

Pak polisi menghalau orang-orang yang berkerumun ramai seperti pasar malam. Salju yang turun lebat sejak pagi tidak menyurutkan keingintahuan mereka.

Aku merunduk dari bawah garis polisi pembatas, lantas menunjukkan lencanaku pada salah satu opsir yang rupanya hendak mengusir.

Begitu lewat dan melihat sekeliling, kesan pertama yang kudapat, suram.

Rumah kecil dengan sepetak taman di pekarangan, seharusnya dapat menjadi tempat tinggal yang nyaman. Tapi justru sebaliknya.

Jendela-jendela tertutup rapat, bahkan sampai ke jendela loteng kecil di dekat atap, yang kuduga adalah tempat barang. Setiap kacanya dipalang rapat oleh kayu luar dalam. Jarak antara rumah ke rumah lumayan jauh, sementara hanya ada satu rumah yang berdekatan dengan rumah ini di samping kiri.

Ketika masuk aku menemukan palang-palang kayu juga ada di balik pintu depan dan pintu belakang. Bohlam-bohlam lampu tidak ada yang dipasang di manapun, seakan-akan pemiliknya takut cahaya. Bermacam-macam makanan kaleng disusun rapi di lemari dapur, tanpa ada makanan lain. Kulkas maupun kotak pembeku yang biasa diisi daging, kosong melompong.

Di lantai dua, hanya ada kamar si pemilik yang pintunya telah rusak berlubang dan kamar mandi di sebelahnya. Pemilik sendiri adalah seorang gadis berumur dua puluh tahunan yang belum lama pindah ke lingkungan ini.

Tidak ada lagi yang bisa dilihat selain ruang kamar.

Aku menarik nafas dalam-dalam, berharap pemandangannya tidak terlalu parah, lalu melangkah masuk dari sela pintu yang terbuka sedikit.

Gadis itu, Nora, tergeletak di tengah ruangan bersimbah darah. Tangan kanannya menggenggam sebilah pisau, hitam penuh darah yang telah mengering. Matanya terbeliak dan rambutnya semerawut. Helai-helai rambut banyak ditemukan di lantai kamar, seperti direnggut paksa, dan terlihat lengket seperti berlumur jelantah. Ketika kudekati tubuhnya, bau busuk menusuk hidungku, yang menurutku aneh karena seharusnya jasadnya belum akan membusuk, apalagi dalam cuaca dingin seperti hari ini. Di lengan, lutut, dan betisnya terdapat banyak bekas gigitan yang masih segar, juga ada gigitan-gigitan lama. Tetapi yang fatal adalah luka menganga di perutnya yang memperlihatkan isi perut.

Tak tahan dengan semua ini, aku bergegas keluar, perutku terasa dikocok-kocok. Lagipula, tak ada lagi yang bisa kulakukan karena dilarang menyentuh apapun di sana.

“Tidak ada komentar. Semuanya masih dalam tahap penyelidikan. Massa akan diberitahu saat segalanya jelas. Mohon menyingkir, pak!”

Begitu petugas-petugas polisi memberitahuku saat berusaha kuwawancara. Bahkan dua orang detektif khusus yang datang menjelang sore sama sekali tidak angkat bicara.

“Gadis ini agak gila, menurutku,” ujar seorang bapak paruh baya bercelana polkadot, saat kutanyai, “Setiap pagi sebelum keluar rumah, bahkan untuk mengambil koran pagi, kulihat dia mendelik ke sana ke mari, seperti mencari sesuatu. Tidak ada yang betul-betul mengenalnya.”

“Ya, setiap kali aku melewati rumah ini, kadang aku melihatnya dari jendela lantai dua, mengintip sambil melotot,” timpal seorang ibu-ibu seraya bergidik, yang merupakan tetangga jauh korban, “tak heran ia bunuh diri seperti ini.”

“Menurut ibu, ini adalah kasus bunuh diri?”

“Tentu saja,” tukasnya, “lagipula siapa yang bisa masuk ke rumahnya yang dipalang di sana-sini seperti itu.”

“Kasus bunuh diri seperti ini mulai banyak terjadi sejak tiga tahun terakhir di sekitar sini, kebanyakan adalah penghuni lama rumah ini.”

“Kupikir yang akan bunuh diri selanjutnya adalah keluarga yang tinggal di samping Nora. Mereka sama anehnya.”

“Hari kedua semenjak gadis itu tinggal, ia mulai berubah aneh.”

Selain semua ini, tidak banyak yang bisa kudapatkan, karena tidak ada yang mengenalnya secara pribadi.

Hatiku berdebar-debar tak karuan. Entah mengapa, seperti ada satu hal kunci yang terlewatkan, membuat segala fakta-fakta ini agak janggal. Apalagi mana mungkin ia menghancurkan pintu kamarnya sendiri. Ataukah memang kasus kelainan jiwa?

Saat langit berubah jingga, aku memutuskan untuk mengunjungi tetangga yang tinggal paling dekat dengan korban sebelum pasrah dan pulang membawa apapun yang bisa kuserahkan pada atasan. Tetangga-tetangga mengatakan keluarga ini juga jarang bersosialisasi, jarang keluar, dan tidak ada yang begitu mengenal mereka.

Ketika kakiku memijak serambi depan rumah yang terkesan berumur seratus tahun itu, pintu masuk seketika membuka sedikit, bahkan sebelum aku mengetuk. Hatiku mencelos saat seorang bapak berambut putih dan berpakaian compang camping menyambut.

Lebih tepatnya memelototiku.

“Apa maumu?” cetusnya dengan suara serak.

“Selamat sor…,”

“Aku tidak menyuruhmu basa-basi. Katakan apa maumu dan enyah!”

Aku memperlihatkan lencana reporter yang tergantung di dadaku, kemudian berkata singkat, “Aku ingin mewawancarai anda tentang Nora.”

“Nora itu gadis yang bermasalah. Aku sudah menduga dia akan bunuh diri,” tukasnya cepat.

Tampaknya ia memutuskan untuk tidak mempersilakan aku masuk.

“Bisa bapak jelaskan lebih detil?” balasku sambil melirik dari celah pintu. Di dalam gelap gulita.

“Aku sering mendengar dia menjerit-jerit sendiri atau membentur-benturkan kepalanya ke pintu. Aku juga tahu dia senang bermain dengan benda tajam, melukai diri sendiri, menggigiti tubuhnya, dan macam-macam. Dia itu tidak waras.”

“Apakah bapak pernah mengunjunginya? Atau mungkin bapak kenal baik dengannya?”

“Tidak.” Jawabnya. Ia melirik-lirik resah.

Firasatku mengatakan sumber ini tidak terpercaya. Aku bahkan tidak yakin dia sendiri waras.

“Lalu apakah bapak mendengar atau melihat apapun yang aneh semalam di sekitar rumah korban?”

“Hey, tuan,” hardiknya, “bagaimana kalau kau tanyakan saja polisi-polisi tak berguna itu dan berhenti menggangguku! Gadis itu yang membelah perutnya sendiri! Dia sendiri yang paranoid dan gila hingga menggigiti tubuh, merusak kamarnya, membolongi pintunya sendiri! Masih kurang jelaskah? Sekarang tinggalkan aku!”

Pintu dibanting di depan wajahku.

Gontai aku terpaksa meninggalkan rumah sialan itu. Hari sudah semakin gelap dan laporanku sungguh belum lengkap. Aku memikirkan wajah atasanku yang akan mengerut saking marahnya. Tetapi belum sempat kakiku melangkah keluar pagar depan, bau busuk menghampiri.

Bau yang sama seperti yang kucium di dekat jasad Nora.

Dan segalanya tiba-tiba jelas. Bagaimana bapak itu tahu jasad Nora yang penuh gigitan, kamar yang berantakan, dan pintu yang berlubang, jika ia sama sekali belum melihat sendiri tempat kejadian? Bahkan para tetangga pun tidak ada yang tahu. Bagaimana pula ia tahu Nora meninggal dengan perut terbuka, sementara hari ini ia tidak keluar sama sekali? Selain itu rumahnyalah satu-satunya yang berada di sebelah rumah korban.

Sontak aku membalikkan badan dan seperti disambar kilat, aku melihatnya.

Makhluk paling mengerikan yang pernah ada, berdiri di balik naungan tirai di jendela lantai dua. Sepasang mata iblis sewarna darah mendelik padaku dan tangan besar kurus berkuku patah-patah menapak di jendela.

Kakiku lemas. Mata itu melotot lurus padaku.

Penuh nafsu membunuh.

***

Diikutkan pada lomba Fiksi Fantasi 2012 – http://9lightsproduction.multiply.com/journal/item/12/Lomba_Fiksi_Fantasi_2012

Shoha Nagato

Posted in Kumpulan Cerpen on February 19, 2012 by Zhang He

Bulan menggantung tinggi, mengintip di sela-sela pucuk rumpun bambu. Heningnya malam dihiasi oleh paduan kerik jangkrik dari gerombolan bunga serunai di sudut taman. Pertengahan jam kuda telah lewat, namun seperti biasa Nagato Shoha masih berlarian di bilik penerima tamu. Hari itu, rombongan pedagang Sutejiro tiba di benteng dan pesta besar-besaran diselenggarakan untuk menyembut mereka. Saat para tamu yang mabuk oleh ratusan mangkuk sake akhirnya terseok-seok ke ruang istirahat, para pelayan dan dayang kini sibuk memberesi sisa-sisanya. Tidak ada yang mengeluh, namun semuanya bergegas membersihkan tanpa suara, jelas ingin sekali cepat tidur. Ketika akhirnya lilin terakhir dipadamkan, Nagato merenggangkan tubuh dan menyelinap keluar. Yang lain tidak cukup peduli untuk bertanya dan segera terlelap.

Nagato memutari danau di kebun belakang, menyusuri jembatan kecil, dan turun ke pavilion Bunga Emas. Ia menuju taman belakang, tempat ruang putri Myoko beristirahat dan duduk beralaskan rumput yang basah oleh embun. Bilik itu tertutup pintu geser dan tirai sewarna persik. Ia memejamkan mata dan sepenuh hati mendengarkan, tetapi tidak ada tanda-tanda suara sang putri. Dengan hati berat, Nagato berdiam di situ hingga semburat matahari muncul di timur, lalu menyelinap kembali ke pos-nya di utara benteng, meninggalkan sekuntum bunga violet di depan pintu kayu itu.

 

***

 

Bukit Nangu bersebelahan dengan benteng Itami, tidak seberapa tinggi, namun cukup luas untuk latihan militer. Di siang terik itu, Nagato turut terjun habis-habisan dalam latihan strategi, yang dikhususkan untuk menyambut perang dengan marga Goto di selatan. Asai Hibayashi, kakak putri Myoko, sang penguasa Itami, tidak luput dari latihan, meski terik matahari membakar tengkuk. Ia melesat ke sana ke mari memacu kudanya, menebas dan berkelit. Nagato, yang hanya prajurit infanteri berpangkat rendah ada di garis depan, menerjang baris pertahanan kelompok lawan. Peluh tak hentinya bercucuran, membasahi seluruh tubuhnya yang kini seperti tertusuk-tusuk. Rambutnya kusut kotor terlapis debu. Ketika akhirnya latihan itu selesai, Nagato berjalan gontai dalam barisan kembali ke benteng Itami untuk beristirahat.

Saat melewati kebun tengah, Nagato menangkap siluet putri Myoko di kejauhan, bersama dayang-dayangnya di tepi danau. Ia menatap pemandangan tak ternilai itu selama mungkin, sampai pandangannya terhalang. Lalu dengan sedikit kecewa, namun hati seringan bulu, Nagato berjalan lebih cepat untuk membersihkan diri.

 

***

 

Pasukan Asai menyerbu hingga ke seberang sungai Oharano, mendesak mundur pasukan Goto di timur. Tanpa belas kasihan, pasukan yang melarikan diri itu dibantai dari belakang. Panji-panji mereka berjatuhan, namun tak tampak satupun jenderal-jenderal besar Goto. Asai Hibayashi memimpin pasukan, memacu kudanya secepat mungkin ke barisan depan.

“Kejar! Jangan biarkan mereka kabur! Tangkap hidup-hidup Shojumaru Goto!”

Nagato mendengar sayup-sayup seruan majikannya itu dan berlari sekuat mungkin, mencengkeram erat tombaknya. Mereka melintasi padang rumput terbuka dengan ilalang-ilalang tinggi yang menghalangi pandangan. Pasukan musuh telah menghilang di balik hutan lebat di hadapan. Asai ragu-ragu.

Nagato memicing berusaha melihat jebakan dari balik barisan pohon lebat itu. Lengan kanannya mulai kebas dan pegal. Keringat membasahi kening sampai ke alis matanya, tapi dia tidak goyah, meskipun jantungnya berdebar tak karuan. Sekitar sepuluh menit Asai tak bergeming di atas kudanya, lalu sangkakala bergaung. Diiringi perintah menyerbu, Nagato berteriak hingga lehernya tercekik seraya berlari maju. Tombaknya terhunus mantap. Rekan-rekannya turut berlari di depannya, mengacungkan pedang dan lembing. Menyusup melalui pepohonan, mereka memasuki kawasan musuh. Nagato yakin akan ada jebakan di sini, sehingga ia mulai berjalan dengan hati-hati. Tapi belum sempat ia mencerna apa yang terjadi, bunyi-bunyi aneh terdengar di sekitar diiringi seruan kencang dari belakang.

“Ada apa? Apa yang terjadi?”

Semua menoleh ke belakang, sekaligus mencari pemimpin mereka, menunggu perintah. Tanpa menunggu yang lain, Nagato berlari kembali ke sisi Asai. Tetapi sang majikan tak terlihat dimanapun. Seketika langit berubah merah.

“Musuh! Jebakan!”

“Orang-orang Goto di belakang!”

Kobaran api begitu saja telah memenuhi hutan, menyebar cepat dari pohon ke pohon. Asap pekat menghalangi pandangan dan membuat mata pedas. Nagato tertelan bulat-bulat dalam kesemerawutan itu. Menutupi hidung dan wajahnya, ia berlari tak tentu arah mencari jalan keluar. Namun sebuah desingan tertangkap telinganya. Lalu kakinya lemas, membuatnya terjerembab. Sebuah panah mencuat menembus pelat di dadanya. Pandangannya berputar dan semuanya berubah lambat. Ia memikirkan Myoko di benteng yang pasti dengan was-was menunggu kakaknya pulang membawa kemenangan. Ia memikirkan setiap tangkai bunga yang ditinggalkan di serambi kediaman sang putri. Ia memikirkan perasaannya yang tak diketahui, bertanya-tanya jika ia dilahirkan sebagai bangsawan, bisakah hidup bersama Myoko. Menang atau kalahkah mereka?

Nagato berbaring mengejang, nafasnya kian putus-putus. Panas api dan jeritan-jeritan pertempuran tak lagi ia rasakan. Ia memejamkan mata, menunggu kematian menyambut. Sadar bahwa dirinya hanya prajurit jelata yang bahkan namanya tak mungkin diketahui Myoko, air matanya meleleh mengiringi doanya agar marga Hibayashi dapat bertahan.

Demi kebahagiaan Myoko, sang terkasih.

Lalu Shoha Nagato pergi.

 

***

 

【Diikutkan pada Tema Cinta di Bulan Februari – Kampung Fiksi

Diari Mimi

Posted in Kumpulan Cerpen on July 7, 2011 by Zhang He

 

Malam ini dirimu lagi-lagi menangis.

 

Entah apa yang terjadi, kau mengunci diri dalam kamar sejak sore, tidak menggubris siapapun, bahkan ibumu yang mengantarkan makanan. Kebiasaanmu ini semakin sering terjadi dalam beberapa hari terakhir, tepatnya setelah kau bertemu Mike. Kadang kau pulang dengan langkah melambung dan senyum merekah, di lain malam kau membanting pintu dan memaki-maki. Ibumu selalu sabar menghadapi tingkahmu yang berubah-ubah, juga senantiasa memberi nasihat, yang kadang berakhir dengan adu mulut sengit. Malam ini beliau terlihat lelah dan memilih membiarkanmu sendiri. Ia pergi beristirahat dalam kamarnya, sementara dirimu terisak-isak di kamar yang lain.

 

Aku di sini sendiri, menunggumu keluar.

 

OOO

            Pagi ini langit begitu cerah, sungguh pas untuk menghias hari yang telah kau tunggu-tunggu. Senyumanmu seperti terukir abadi, tak sedetikpun hilang. Kau berlari kesana kemari, mengkhawatirkan hal-hal kecil, seperti riasanmu yang kau takutkan tidak serasi dengan pakaianmu. Ibumu sepertinya tidak keberatan, turut sibuk menata rambutmu saat kau kembali berlatih melantunkan pidato kelulusan yang telah kau siapkan semalaman. Kau ingin segalanya sempurna hari ini—puncak kerja kerasmu selama empat tahun. Ibumu tahu kau telah belajar dengan giat dan meraih nilai nyaris sempurna, maka ia berkaca-kaca saat memelukmu yang siap berangkat. Begitu cantik. Lalu menjelang siang kau dan ibumu berangkat bergandengan, masih dengan tersenyum lebar.

 

Aku di sini sendiri, menunggumu pulang.

 

OOO

            Kau tidak pulang malam ini. Ibumu di ruang makan, melamun menunggui santapan yang terhidang di meja, yang kini pasti telah dingin. Jam dinding berdentang sembilan kali. Lalu sepuluh. Sebelas. Dua belas. Hari ulang tahunmu pun tiba. Ibumu akhirnya menyerah saat dua dentangan terdengar dan dirimu masih belum muncul. Ia memberesi piring-piring makanan itu, juga sepotong kue tart stroberi yang agak meleleh, lalu mematikan lampu dan pergi ke kamarnya. Kemudian sunyi.

 

Aku di sini sendiri, menunggumu sampai pagi.

 

OOO

            Kau menangis lagi.

 

Kali ini ibumu turut menangis bersamamu, memelukmu erat-erat. Kau memamerkan cincin berkilau di jari manis sambil terus berceloteh panjang lebar soal tunanganmu, Mike; bagaimana ia begitu manis dan romantis, bagaimana ia begitu kaya raya dan tampan, dan bagaimana ia meminangmu. Wajahmu begitu berseri dengan mata berkaca-kaca. Sore itu kau berdandan begitu memesona berbalut gaun satin biru kebanggaanmu. Ibumu seperti biasa begitu antusias melihatmu bahagia, menata rambutmu dengan cantik, membuatmu tampak sempurna layaknya dewi-dewi yunani.

Malam itu ibumu sendirian di ruang tamu, membolak-balik album foto yang merekam segala kenangan kalian sejak dirimu lahir. Ia menangis semalaman.

 

Aku di sini sendiri, menunggumu, berharap dirimu melihatnya.

 

OOO

            Barang-barang dipindahkan. Perabotan dikemas. Orang-orang asing lalu lalang mengangkuti kardus-kardus besar. Kau dan ibumu turut sibuk mondar-mandir—sampai akhirnya truk pengangkut di depan gerbang pergi, meninggalkan rumahmu separuh kosong. Kau menangis lagi, berpelukan dengan ibumu. Lalu bersama-sama mengitari seisi rumah, mengenang dua puluh enam tahun hidupmu di sini. Kemudian kau pergi. Diiringi hujan lebat di luar jendela, ibumu menonton televisi malam itu—tayangan seri komedi. Pun begitu, air matanya terus tumpah sepanjang malam.

 

Aku di sini sendiri, bertanya-tanya apa dirimu akan pulang.

 

OOO

            Kau sudah lama tidak berkunjung. Yang lalu kau dan suamimu datang membawa oleh-oleh, namun begitu cepat kalian pulang. Kau memberitahu ibumu—yang kini berjalan membungkuk—bahwa kini kau bekerja di sebuah perusahaan, juga sedang berusaha mengandung. Ibumu mengerti kau sibuk, begitu juga suamimu, yang tampak enggan berlama-lama. Lalu kau pergi dan tak pernah kembali lagi.

 

Aku di sini sendiri, masih menunggumu.

OOO

            Matahari terasa begitu panas dan terik. Sejak pagi ibumu sibuk di kebun belakang di antara tanaman-tanaman merambat pada tiang-tiang dan semak-semak yang menjulur, entah bagaimana ia bisa tahan cuaca sekejam ini. Kau dulu biasa bersamanya, membantunya memangkas dan menyirami, kemudian beristirahat di teras dengan berlumuran tanah, ditemani segelas es teh. Kau akan mengobrol banyak dengan ibumu, meski lebih banyak dirimu yang berbicara. Ibumu tak keberatan. Selalu antusias menanggapi keluhan-keluhanmu. Sudah lama sekali suaramu tak terdengar di rumah ini, hingga ibumu kerap bercakap dengan fotomu yang berbingkai di meja. Akhir-akhir ini ibumu sering mendekapnya kemana-mana.

 

Aku di sini sendiri, layaknya ibumu—berharap kau cepat pulang.

 

OOO

            Hari ini aku begitu lelah.

Ibumu menyiapkan hidangan yang nampak lezat untukku, lalu duduk di sampingku sepanjang hari, menemani. Kau masih belum pulang juga, meski siang tadi ibumu baru bicara telepon denganmu, memberitahumu kecemasannya akan kesehatanku. Kecemasan kosong tentu saja, karena aku hanya keletihan. Namun tampaknya kau benar-benar sibuk, hingga kau bilang mungkin tak sempat pulang. Ataukah tidak peduli?

 

Aku letih. Pulanglah… sekali saja. Bermain denganku…

 

OOO

            “Ibu, bagaimana kabarnya? Aku benar-benar nggak bisa pulang sekarang,”

Nggak apa-apa. Pagi ini ibu cek sudah mati, sepertinya Mimi kemarin malam matinya.”

“Oh. Yasudah… Memang sudah tua. Kuburkan aja, bu. Di kebun belakang atau langsung dibuang biar nggak bau nanti.”

“Anjing baik, nurut tiap hari. Sayang kamu nggak bisa di sini nemeni dia,”

“Iiih.. pasti udah bau kan beberapa bulan terakhir. Langsung buang aja deh, bu”

 

OOO

Kisah Rounan

Posted in Kumpulan Cerpen with tags , on July 4, 2011 by Zhang He

Orang-orang bilang, Rounan—sang putra mahkota kerajaan Galeandra—tumbuh tampan layaknya pangeran sejati, namun dua kekurangannya, yaitu karisma dan keberanian bak ksatria perang. Memang Rounan menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan kerajaan, menggeluti buku-buku tebal berdebu dan perkamen tua. Ia jelas haus pengetahuan, lain halnya dengan Liam, sang adik. Prestasinya nyata dalam adu fisik, tak seorangpun para petarung yang menantangnya berhasil membawa pulang kemenangan. Selain itu dirinya memiliki daya tarik luar biasa dengan kepandaian berbicara. Mungkin Liam tidak mengetahui banyak pengetahuan seperti Rounan, namun ia sanggup meyakinkan dan menyenangkan lawan bicaranya dengan mudah, membuatnya disegani rakyat. Sementara Rounan begitu tertutup dan enggan bicara keluar.

Hal ini tidak luput oleh pengetahuan sang Raja tentu, membuatnya khawatir akan sang penerus tahta. Maka hari itu beliau bertatap muka dengan kedua pangeran, lalu menyiratkan kegalauannya.

Menjelang tengah malam, Rounan kembali ke ruangannya dengan kepala mendidih. Ia belum pernah merasa dipermalukan seperti ini sepanjang hidupnya, apalagi di hadapan ayahnya. Namun yang lebih membuatnya bergidik adalah apa yang menantinya esok.

Masih jelas dalam ingatannya, buku dongeng yang pernah ia baca semasa kecil. Tentang seorang penguasa dan ratunya yang dikaruniai putri tunggal, secantik bidadari selembut peri. Begitu sempurnanya sehingga mereka menginginkan pula pasangan sempurna bagi sang putri. Maka ia dikurung dalam sebuah kastil di menara tertinggi dengan pintu masuk yang dijaga oleh monster naga hitam, menanti kedatangan seorang ksatria terhebat yang akan berhasil mengalahkan sang monster, menyelamatkan putri, lalu mereka akan menikah dan hidup bahagia selamanya.

Sungguh omong kosong, begitu pikir Rounan dulu saat mulai beranjak dewasa. Siapa sangka dongeng itu benar-benar terjadi, terlebih harus dijalankannya besok. Telah jelas perintah sang Raja. Di antara Rounan dan Liam, bagi yang dapat lebih dahulu mencapai kastil terlarang dan membebaskan putri Luna, akan menikahi sang tawanan jelita dan dinobatkan resmi sebagai penerus tahta, tanpa ganggu gugat. Tentu saja hal ini bukan sekedar menentukan penerus tahta, namun juga usaha aliansi perkawinan dengan kerajaan Terran yang selama ini kerap bersaing dan menjadi bebuyutan.

Maka begitu matahari terbit, Rounan—berlapis baju zirah mengkilat—dan pelayan pribadinya Duelle berangkat memacu kuda mereka dengan semangat berapi-api, sementara Liam tersenyum meremehkan dari atas benteng, bersantai.

“Sombong sekali tuan muda Liam,” kata Duelle sesampainya mereka di hutan.

Rounan mengerlingnya yang berkuda pelan di samping, seketika membuatnya salah tingkah.

“E—eh bukan maksud ham—“

“Tak apa,” ujar Rounan tersenyum. Ia menepuk gagang pedang di pinggangnya penuh percaya diri, meski hatinya berdebar tak karuan.

“Aku sering membaca tentang ini,” lanjutnya, “Monster naga, kastil terpencil. Klasik.” Rounan terbahak.

“Tapi, tuanku, ini bukan cerita dongeng,” jawab Duelle gugup, membuka buntalan yang ia bawa, ”Ini masalah nyawa tuan. Aku membawa peta menuju kesana, juga petunjuk-petunjuk untuk tuanku pertimbangkan. Monster itu bukan lawan enteng.”

Jawaban yang mengecewakan.

“Apa kau meragukan kemampuanku juga, Duelle?”

Pelayan malang itu bungkam, memandang tuannya salah tingkah.

“Aku muak diremehkan oleh semua orang,” tukas Rounan, mempercepat derap kuda yang ia tunggangi, “Akan kubuktikan kalau aku bukan sekedar kutu buku!” teriaknya, melesat seperti kesetanan.

Lalu menjelang siang, pepohonan yang sedari pagi mereka lewati kini merenggang, digantikan tanah berbatu tandus. Di kejauhan, sebuah kastil megah berdiri pada tebing curam yang terpisahkan jurang menganga. Rounan menyeringai—meski otaknya kini mulai berputar mencari akal agar tidak terbunuh konyol. Di belakangnya, Duelle tergopoh-gopoh sampai, berantakan dari ujung rambut ke bawah. Buntalan perlengkapan ia dekap asal sementara tangan kirinya masih menggenggam peta menuju kastil yang kini kusut berantakan.

“Kau bisa simpan petamu yang tak berguna, Duelle,” Rounan tertawa lagi, memacu kudanya—berlagak bak ksatria sejati, “Sudah kubilang aku tahu betul apa yang harus kulakukan. Menyelamatkan putri… bah! Mereka akan menyesal. Begitu mudahnya tertipu dengan pesona Liam yang hanya pintar bicara.”

Rounan mencabut pedangnya, kemudian mulai awas. Suasana hening diselingi desiran angin, namun suara sang monster tak terdengar dimanapun. Perlahan mereka berkuda mencapai tepi jurang, sebelum akhirnya harus lanjut dengan berjalan kaki menyusuri jembatan gantung.

“Tu—tuan… rasanya aneh. Kurasa—“

“Diam kau. Jangan bangunkan naganya,”

Mengendap-endap seperti maling, keduanya menyeberang, menyelinap dari pintu utama dan mengahadap sebuah ruangan megah yang tidak terurus dengan lantai berlapis debu tebal.

“Konyol sekali,” bisik Rounan, “Orang tua macam apa yang mengurung putrinya di tempat seperti ini hanya untuk mencarikannya pasangan.”

Duelle bercucuran keringat di belakangnya, membolak-balik gugup perkamen yang ia bawa, tengah mencari apapun yang bisa membantu mereka keluar dengan selamat, ketika raungan terdengar dari kejauhan.

“Ke puncak menara!” desis Rounan.

Ia melesat cepat ke tangga meninggalkan Duelle yang masih terdiam mendelik ketakutan. Dua tiga anak tangga sekaligus ia lompati. Pedangnya terhunus mantap.

Tangga batu itu melingkar naik, panjang seakan tak berujung. Nafas Rounan tersengal putus-putus saat akhirnya pijakan tangga terakhir ia langkahi. Tak ada tanda-tanda Duelle yang mengekor.

“Lambat,” gerutu Rounan, “beribu-ribu kali kusuruh dia berolah-raga.”

Raungan kembali menggema di kejauhan. Kali ini panjang dan membuat bulu kuduk meremang.

Mengabaikan pelayannya, Rounan buru-buru melangkah ke sebuah koridor pendek dengan pintu tunggal  di ujung. Megah dan tergurat ukiran cantik.

Showtime,” Rounan tersenyum, menutup pelindung kepalanya dan mendorong pintu kayu itu.

Kosong.

Tidak bahkan perabotan kecil sekalipun. Lantainya berdebu tebal, polos tanpa jejak. Tembok batu itu retak di sana sini berhias sebuah jendela segi empat di seberang pintu.

“Apa maksudnya ini!”

“Tuanku!” Duelle menjeblak masuk, bersandar pada tembok, menggap-menggap kehabisan nafas

“Sialan. Apa ini semacam trik?” Rounan mengabaikan pelayannya, menyusuri setiap bongkah batu di lantai dan dinding, mencari petunjuk. Sementara Duelle membelalak, baru menyadari ruangan itu kosong.

“T—tuanku! Kamarnya kosong!”

“Aku tahu, otak udang!” sergah Rounan, “Cepat cari petunjuk! Sebelum naga itu datang.”

Keduanya merangkak, memukul, mencungkil, dan mendorong tiap jengkal ruangan itu namun nihil. Duelle baru saja mulai membuka-buka lagi buntalan perkamennya saat kembali raungan itu terdengar. Tetap di kejauhan, seakan ada yang mengganggu dan menahan monster itu di sana.

“Dimana naga itu,” gumam Rounan, beranjak menuju jendela dan mengamati dataran luas dari ketinggian menara.

Kemudian matanya menangkap sebuah siluet. Bangunan tinggi megah, hitam agak terselubung asap debu di kejauhan. Sebuah bayangan kecil hitam bersayap berputar-putar di atasnya mengitari puncak. Hatinya mencelos.

“Oh!” seru Duelle tiba-tiba, “Tuanku! Aku tahu kenapa ruangan ini kosong! Kau perlu melihat ini!”

Ia menyodorkan secarik perkamen tua kusut. Sebuah peta.

Rounan tak menyambutnya, kembali memandang kejauhan. Lemas.

 

Sialan. Aku salah kastil.